Medan-Sebanyak 10.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat resmi dilepas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk terjun langsung mendukung pemberdayaan masyarakat, dan pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra. Prosesi dilakukan secara simbolis, di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Rabu (28/1).
Mahasiswa akan melaksanakan program ini dengan menetap selama sekitar satu bulan di lokasi terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Selama periode tersebut, mereka tidak hanya hadir sebagai relawan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa gagasan, inovasi, serta semangat pemulihan bagi masyarakat.
Bagi Tomy Sirait, mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), program Mahasiswa Berdampak adalah bentuk tanggung jawab sosial. Kepeduliannya tumbuh dari kondisi masyarakat pascabencana di Desa Mekar Sawit, Langkat, yang kehilangan keluarga sekaligus mata pencaharian. Melalui program ini, Tomy dan tim berupaya membangkitkan kembali perekonomian warga dengan pengembangan produksi briket sebagai energi alternatif serta pemberdayaan UMKM sapu lidi.
“Kami ingin UMKM sapu lidi di desa ini tidak hanya bertahan, tapi mampu berkembang hingga menembus pasar nasional bahkan internasional,” jelasnya, penuh optimisme.
Semangat serupa dirasakan oleh Nia Sahrel Yasyub, mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU). Bagi Nia, program ini menjadi ruang nyata untuk menghadirkan dampak positif dan inovasi langsung di lapangan.
“Bangga dan senang, rasanya luar biasa karena tim kami bisa menjadi bagian dari mahasiswa yang menjangkau masyarakat terdampak bencana,” tuturnya.
Sementara itu, Shofwan Sasri Azhari, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Unimed, mengikuti program Mahasiswa Berdampak akan menjadi pengalaman emosional yang tak terlupakan. Ia mengaku perasaannya campur aduk antara sedih, terharu, sekaligus bangga, mengingat proposal yang mereka susun, berhasil lolos untuk mengikuti program.
“Perasaan terharu sekaligus bangga menyelimuti hati ini. Program ini memberi kami kesempatan untuk benar-benar terjun dan berdampak di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi lain, Grace Angel Sirait, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed, mengaku sangat antusias dan bahagia saat mengetahui proposal timnya dinyatakan lolos. Baginya, program ini bukan sekadar tentang pendanaan, melainkan proses pembelajaran yang membentuk tanggung jawab dan kepercayaan diri. Dengan penuh semangat, ia menegaskan kesiapan timnya untuk terjun ke lokasi.
“Aceh Tamiang, tunggu kami,” ungkapnya.
Perasaan senang, lega, dan bangga juga dirasakan Muhammad Panji Prayoga, mahasiswa Keperawatan USU. Menurutnya, keikutsertaan dalam program ini menjadi awal dari tanggung jawab besar untuk benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Hal senada disampaikan Ratima Marbun, mahasiswi Ilmu Keperawatan USU, yang memandang kesempatan ini sebagai pengalaman berharga untuk mengabdi dan menolong sesama.
Antusiasme mahasiswa juga datang dari Berkat Tampubolon, mahasiswa Teknik Komputer dan Informatika Politeknik Negeri Medan. Ia menilai Program Mahasiswa Berdampak sebagai wujud nyata kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat.
“Program ini menguatkan empati, kolaborasi, dan gotong royong. Kami berharap kehadiran mahasiswa dapat menumbuhkan kembali harapan bagi masyarakat terdampak,” ujarnya.
Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, mahasiswa peserta Program Mahasiswa Berdampak membawa satu tujuan yang sama: hadir, peduli, dan memberi dampak. Selama satu bulan ke depan, mereka akan hidup bersama masyarakat, belajar dari realitas lapangan, serta membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya agen perubahan di ruang kelas, tetapi juga di tengah krisis dan kemanusiaan.
Dukung Pemberdayaan Masyarakat
Selama menetap di wilayah terdampak bencana, para mahasiswa nantinya tetap didampingi oleh Dosen yang juga menjadi ketua kelompok.
Diungkap Aflaun Fadil Siregar, Dosen dan Ketua Pembimbing dari tim UMSU, kehadiran mereka bersama tim dalam Program Mahasiswa Berdampak merupakan wujud nyata komitmen kampus untuk terlibat langsung dalam pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa akan fokus pada pemulihan ekonomi pascabencana sebagai program utama. Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah pengembangan produksi briket sebagai sumber energi alternatif. Program ini diharapkan dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat, sehingga mampu membantu proses pemulihan dan kemandirian ekonomi warga setelah bencana.
Selain itu, tim juga memberikan perhatian khusus pada penguatan UMKM yang telah ada di desa. Mahasiswa akan mendampingi masyarakat dalam mengembangkan ide-ide kreatif, sekaligus mendorong lahirnya inovasi produk baru agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.
Dengan kehadiran mahasiswa UMSU di Desa Mekar Sawit, Langkat, Sumatera Utara, diharapkan program yang dijalankan mampu memberikan perubahan nyata terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Lebih dari itu, dirinya berharap kegiatan ini dapat menjadi awal terjalinnya kerja sama berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam mendukung pembangunan dan ketahanan ekonomi lokal.
Lebih lanjut Muhammad Surif, Dosen Unimed yang juga menjadi ketua kelompok dalam program Mahasiswa Berdampak, pihaknya akan melaksanakan program di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Pihaknya akan membawa inovasi mahasiswa Unimed, yang bertujuan untuk memberikan solusi bagi masyarakat yang pernah terdampak bencana di Aceh Tamiang. Melalui inovasi teknologi tepat guna ini, kami berharap program dapat secara bertahap memberikan masukan dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak bencana.
"Inovasi yang akan kami lakukan berfokus pada pengembangan pangan masyarakat dalam rangka pemulihan dampak bencana," jelasnya.
Secara perlahan paparnya, inovasi ini diharapkan mampu mendorong pemulihan ekonomi masyarakat, mengingat mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai petani. Inovasi tersebut akan diterapkan melalui pemanfaatan berbagai alat teknologi yang diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
"Mudah-mudahan program ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di Aceh Tamiang," pungkasnya.
Integritas dalam Pengabdian
Sebagai bekal sebelum terjun ke lokasi, mahasiswa peserta program Mahasiswa Berdampak terlebih dahulu dibekali berbagai materi pendukung yang relevan dengan kondisi wilayah bencana. Pembekalan ini menjadi langkah penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya hadir dengan semangat, tetapi juga dengan pemahaman yang matang terkait penanganan pascabencana, etika berinteraksi dengan masyarakat terdampak, mitigasi risiko di lapangan, serta penerapan program sesuai kebutuhan lokal.
Selaras dengan misi tersebut, tim pakar program Mahasiswa Berdampak, I Wayan Karyasa, dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali, memberikan pembekalan mengenai rambu-rambu perilaku di lapangan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus menjaga integritas dan
menjaga aspek akuntabilitas dalam pelaksanaan program ini.
"Setiap mahasiswa diwajibkan menyusun catatan harian dan laporan kegiatan secara transparan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana yang ada. Selain itu, junjung tinggi etika bermasyarakat dengan mengedepankan kesantunan, dan jauhi sikap arogan," tegasnya.
Hal ini menurutnya menjadi krusial, agar kehadiran mahasiswa benar-benar membawa kebahagiaan dan solusi bagi warga di lokasi terdampak.
Sebelumnya Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan jangka pendek. Setiap kelompok mahasiswa didampingi oleh tim dosen pembimbing yang memiliki kompetensi riset dan inovasi, sehingga penerapan teknologi di lapangan tetap berbasis kajian ilmiah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kita menyesuaikan kebutuhan daerah terdampak dengan jumlah mahasiswa yang diturunkan. Penyebaran mahasiswa terbanyak di Aceh yakni di Kabupaten Aceh Tamiang, sementara di Sumatra Utara ada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan di Sumatra Barat adalah di Kabupaten Agam,” jelas Dirjen Fauzan usai melepas secara simbolis 10.000 Mahasiswa.
Program ini menekankan pada implementasi inovasi teknologi tepat guna yang berasal dari masing-masing perguruan tinggi. Fokus kegiatan diarahkan pada sektor-sektor strategis seperti kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kesehatan masyarakat. Selain itu, mahasiswa berperan aktif dalam pemulihan ekonomi melalui pengembangan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, maupun ekonomi biru demi menciptakan dampak kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan, serta menumbuhkan semangat dan harapan baru di wilayah terdampak bencana Sumatra.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif